Jawaban Dalam literatur fiqih madzhab Syafi'i, musafir memang tergolong sebagai orang yang boleh untuk tidak…

jumpa lagi kawan-kawan di Info Kita Semua, portal soal untuk siswa Indonesia.

Pada artikel kali ini kita ingin membantumu yang sedang mencari jawaban [buat|atas} pertanyaan: Dalam literatur fiqih madzhab Syafi’i, musafir memang tergolong sebagai orang yang boleh untuk tidak…, yuk kita sama-sama simak pembahasannya.

Pertanyaan

Dalam literatur fiqih madzhab Syafi’i, musafir memang tergolong sebagai orang yang boleh untuk tidak melaksanakan puasa di bulan Ramadhan, namun terdapat satu pengecualian musafir yang tidak dapat membatalkan puasanya, yakni ..

Jawaban #1 untuk Pertanyaan: Dalam literatur fiqih madzhab Syafi’i, musafir memang tergolong sebagai orang yang boleh untuk tidak melaksanakan puasa di bulan Ramadhan, namun terdapat satu pengecualian musafir yang tidak dapat membatalkan puasanya, yakni ..

Jawaban:

Adapun Syekh Yusuf Al-Qardhawi sendiri berpandangan. Perlu dibedakan di antara para pelaku safar, mana yang mudah melaksanakan puasa dan mana yang tidak.

“Siapa yang merasa mudah melaksanakan puasa, dan dia merasa berat meng-qadha (mengganti) ketika semua orang berbuka (pada hari di luar Ramadhan –Red), maka puasa baginya lebih utama.

Siapa yang merasa berat untuk berpuasa, dan mudah baginya untuk meng-qadha pada hari yang lain, maka berbuka lebih baik baginya,” MAAF KALO SALAH ATAU KURANG JELAS

Jadi gimana? Apa pembahasan barusan bisa membantumu?

Atau kamu mungkin memiliki jawaban yang berbeda?

Sampai jumpa lagi…